Kitab Jima’ul Ilmi Karya Imam asy-Syafi’i rahimahullah
Resensi Kitab Materi Daurah Salafiyyah Imam al-Muzani I

JEMBER – Dalam durus ilmiah Daurah Salafiyyah Imam al-Muzani I 22-28 Muharram 1444 H nanti, ada tiga kitab yang akan dipelajari. Kitab Jima’ul Ilmi karya Imam asy-Syafii rahimahullah; Kitabun Nikah dari Kitab Minhajut Thalibin wa Umdatul Muftiin karya Imam an-Nawawi rahimahullah; dan kitab I’tiqadu Aimmati Ahlil Hadits karya Imam al-Isma’ili rahimahullah.
Namun sebelum mempelajarinya, ada baiknya kita sedikit mengulas kitab-kitab tersebut. Harapannya dapat memberi kemudahan di dalam mengikuti serta memahami apa yang akan disampaikan oleh para masyaikh berupa ilmu dan penjelasannya.
Kitab Jima’ul Ilmi karya Imam asy-Syafii rahimahullah
Kitab Jima’ al-‘Ilm (جماع العلم) merupakan sebuah kitab yang membahas bidang ushul fiqh Penulisnya adalah seorang imam besar, mujaddid umat, Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullah, imam panutan mazhab Syafi’i.
Imam Asy-Syafi’i menyusun kitab Jima’ul Ilmi ini di Mesir, setelah penulisan kitab ar-Risalah al-Jadidah (yaitu kitab ar-Risalah versi baru, setelah beliau merevisinya dari kitabnya yang lama).
Biografi Singkat Penulis
Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Abdil Muthalib bin Abdu Manaf al-Qurasyi dari suku Quraisy. Lahir tahun 150 Hijriyah dan wafat pada 204 Hijriyah (767 – 820 Masehi).
Kurang lebih beliau hidup di dunia selama 53 tahun. Usia yang tergolong belum tua, namun beliau telah menyelami lautan ilmu dan mewariskan segudang manfaat untuk umat. Hal itu menunjukkan bahwa Imam asy-Syafi’i adalah sosok yang haus akan ilmu agama. Setiap waktu dan harinya beliau habiskan untuk khidmat terhadap ilmu. Sehingga Allah pun memberinya ilmu yang luas, penuh berkah dan bermanfaat.
Dia adalah seorang imam, ulama, fakih (dalam ilmu agamanya), ahli hadis, tokoh agama dan panutan umat bahkan salah satu dari imam mazhab yang empat (Abu Hanifah, Malik bin Anas, Asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal). Panutan mazhab Syafii, satu dari empat mazhab yang terkenal dalam Islam. Beliau hidup sepeninggal Imam Abu Hanifah dan sempat bertemu dengan Imam Malik, bahkan berguru dengannya. Selain itu, Imam asy-Syafi’i menjadi guru utama Imam Ahmad rahimahumulah.
Al-Imam Asy-Syafi’i berhasil mengabungkan fiqh hadits guru besarnya, Imam Malik bin Anas, di Madinah; dengan fiqh Imam Abu Hanifah – yang beliau menimba ilmu dari murid besar Imam Abu Hanifah, Muhammad bin Hasan – ditambah dengan fiqh para ulama Syam dan para ulama Mesir, karena beliau juga belajar kepada para ulama di negeri tersebut.
Di samping beliau juga belajar di madrasah Makkah yang menonjol dalam bidang tafsir al-Qur’an dan sebab-sebab nuzulnya, serta bahasa Arab dengan sastranya. Di samping beliau sendiri juga berangkat ke pedalaman Arab, di tengah Bani Hudzail, untuk mempelajari bahasa Arab yang fasih dan murni, sehingga beliau menghafal banyak syair-syair Bani Hudzail dan berita-berita Arab.
Imam asy-Syafi’i, Peletak Pertama Ilmu Ushul Fiqh
Dengan bekal-bekal yang sangat kuat dan matang tersebut, al-Imam Asy-Syafi’i berhasil meletakkan untuk para fuqaha: pedoman dan prinsip dalam beristinbath (mengambil kesimpulan hukum), kaidah-kaidah metode berdalil, dan pedoman dalam berijtihad. Sehingga beliau menjadikan ilmu fiqh bisa tegak di atas prinsip-prinsip (ushul) yang kokoh, bukan berdasar kepada fatwa-fatwa dan keputusan-keputusan qadhi semata. Dengan ini al-Imam Asy-Syafi’i berhasil membuka mata para fuqaha dan memudahkan jalan bagi para ulama mujtahidin yang datang setelahnya. Bahkan ijtihad-ijtihad beliau tampil menjadi madzhab Syafi’i.
Disebut mazhab Syafi’i karena madzhab ini merujuk kepada ijtihad-ijtihad Imam Asy-Syafi’i yang tertuang dalam kitab-kitab hasil karya beliau, atau pendapat-pendapat beliau yang dibukukan oleh sahabat-sahabat dan murid-murid beliau.
Al-Imam Ahmad bin Hanbal, salah seorang murid besar beliau, berkata, “Dulu ilmu fiqh itu terkunci pada para ahlinya saja, hingga akhirnya Allah bukakan dengan keberadaan Asy-Syafi’i.” (Tahdzib al-Asma wa al-Lughat 1/61)
“Dulu para qadhi di tengah-tengah kami selalu berada di tangan para murid Abu Hanifah dan tak pernah tercabut (berpindah). Hingga kami melihat Asy-Syafi’i. Beliau adalah seorang yang paling faqih tentang Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya – shallallahu ‘alahi wa sallam – dan para ulama hadits tak pernah kenyang mempelajari kitab-kitab asy-Syafi’i.”
“Kalau bukan karena Imam Asy-Syafi’i niscaya kami tidak akan mengerti fiqh hadits.” Demikian diungkapkan dan dipersaksikan oleh al-Imam Ahmad bin Hanbal tentang guru besarnya ini. (lihat Tahdzib al-Asma wa al-Lughat 1/61)
Baca Juga: Mengenal Biografi al-Imam al-Muzani rahimahullah
Metode Penulisan Kitab
Dalam penyusunan kitab Jima’ul Ilmi ini, al-Imam asy-Syafii rahimahullah menjadikan kitab ar-Risalah sebagai rujukan. Misalnya ketika beliau menyanggah orang yang menolak untuk menggunakan hadis ahad sebagai hujjah dengan berkata, “Apa yang kami sampaikan di sini dan dalam al-Kitab sebelum ini (maksudnya ar-Risalah), terdapat dalil yang membantah mereka dan orang selain mereka.”
Kitab ar-Risalah dan Kitab Jima’ul Ilmi memiliki kaitan yang sangat kuat antara satu sama lain. Hal itu tidak sekadar menjadikan kitab ar-Risalah sebagai rujukannya, lebih dari itu kitab Jimaul Ilmi menjelaskan permasalahan-permasalahan yang masih disampaikan secara umum oleh Imam al-Syafii dalam kitab al-Risalah.
Ada juga perkara yang disampaikan secara umum dalam kitab Jimaul Ilmi, sudah ada penjelasannya dalam kitab ar-Risalah sebelumnya.
Pembahasan Utama dalam Kitab
Ada 3 pembahasan utama dalam kitab ini.
- Penggunaan hadis ahad sebagai hujah, dan penjelasan bahwa sunnah (hadits) menjelaskan hukum al-Quran. Serta penjabaran terkait kedudukan sunnah di sisi al-Quran.
- Menjelaskan kedudukan ijma’ yang dapat dijadikan hujjah (dasar hukum) dalam syariat Islam.
- Perbedaan pendapat dalam permasalahan fikih, mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak diperbolehkan.
Kitab ini mengandungi banyak penerapan masalah-masalah fikih. Penulisannya menggunakan metode dialog-dialog dengan mengandaikan aspek-aspek yang diperselisihkan dan menyanggah dalil-dalil yang kemungkinan besar dapat terjadi dalam dialog ushul fikih. Kitab ini termasuk dalam karya tulis yang bernilai tinggi dalam bidang ushul fikih.
Terkandung padanya lima bab, yaitu:
Pertama, bab hikayat ucapan kelompok yang menolak hadits semuanya.
Kedua, bab hikayat ucapan kelompok yang menolak hadits-hadits khusus.
Ketiga, penjelasan seputar faraidh (kewajiban) yang Allah dan rasul-Nya perintahkan.
Keempat, bab puasa.
Kelima, tentang sifat larangan Allah Taala.
Imam asy-Syafi’i di dalam kitab ini juga menjelaskan bagaimana cara istinbath (mengambil kesimpulan hukum) dari dalil-dalil al-Quran dan as-Sunnah serta ijma’ ulama.
Ini menunjukkan beliau adalah seorang ulama yang sangat jeli dan teliti dalam masalah agama.
Beberapa Cetakan Kitab
Kitab ini dicetak oleh Penerbit Darul Atsar pertama kali pada tahun 1423 H atau 2002 M. Berdasarkan beberapa cetakan pertama, kitab Jimaul Ilmi ini telah diterbitkan bersama dengan kitab al-Umm.
Berikut beberapa versi cetakan lainnya dari kitab ini.
- Kitab Jima’ul Ilmi yang di-tahqiq oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir pada tahun 1940 M. Dari penerbit Maktabah Ibnu Taimiah. Kandungannya (teks matan dan teks tahqiq ) mencakup 128 halaman belum termasuk daftar isi dan yang lainnya.
- Kitab Jima’ul Ilmi yang termuat dalam Mausu’ah al-Imam asy-Syafii, cetakan Dar Qutaibah. Isinya terdiri dari 70 halaman yang berisi 460 perenggan. Kitab ini ditahqiq Dr. Ahmad Badruddin Hassun.
- Kitab Jima’ul Ilmi yang di-tahqiq oleh Muhammad Ahmad Abdul Aziz Zaidan. Terbitan Darul Kutub al-Ilmiyyah, Beirut pada tahun 1405 H/1985 dengan ketebalan mencapai 100 halaman. Termasuk halaman daftar isi dan yang lainnya.
- Ada juga cetakan Daar Ibnul Jauzi, Kairo, Mesir.
- Dan cetakan-cetakan lainnya.
Penutup
Demikianlah sedikit resensi dari kitab Jima’ul Ilmi karya Imam Asy-Syafii rahimahullah. Semoga dapat bermanfaat. Adapun 2 kitab lainnya, akan kami bahas di artikel selanjutnya biidznillah. Wallahu a’lam.
Baca Juga: Rekomendasi al-‘Allamah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Terhadap Dr. Arafat
Website Resmi: https://daurahimamalmuzani.com/
Channel Telegram Resmi: https://t.me/daurahimamalmuzani



