Faedah IlmiahInformasiKitabReportase

Ketika Kisah Nabi Yusuf Menjadi Penghibur dan Bekal Menghadapi Ujian

Pertemuan Pertama Silsilah Fawaid Mustanbathah min Qishshati Yusuf

Kisah Nabi Yusuf عليه السلام bukan sekadar rangkaian cerita tentang seorang nabi yang dibuang ke dalam sumur, dijual sebagai budak, dipenjara, kemudian menjadi pembesar di Mesir. Di balik setiap peristiwa terdapat pelajaran, nasihat, dan petunjuk yang sangat dekat dengan kehidupan seorang mukmin.

Hal inilah yang menjadi salah satu penekanan dalam pertemuan pertama Silsilah Fawaid Mustanbathah min Qishshati Yusuf, yang mengkaji faidah-faidah dari kisah Nabi Yusuf عليه السلام berdasarkan karya Imam Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di رحمه الله.

Kisah yang Mengandung ‘Ibrah

«لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ»

“Sungguh, pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Yusuf: 111)

Imam As-Sa’di رحمه الله menjelaskan bahwa ‘ibrah adalah pelajaran yang membawa seseorang dari kisah menuju makna dan hukum yang bermanfaat, petunjuk kepada kebaikan, serta peringatan dari perkara yang membinasakan.

Karena itu, kisah Al-Qur’an tidak semestinya berhenti pada aktivitas “mendengar cerita”. Seorang mukmin dituntut untuk bertanya: Apa yang harus saya pelajari? Apa yang harus saya perbaiki? Dan bagaimana kisah ini menjadi bekal dalam kehidupan saya?

Al-Qur’an Menghibur Hati yang Bersedih

Salah satu faidah yang sangat menarik dari pertemuan pertama ini adalah bahwa kisah-kisah Al-Qur’an dapat menjadi penghibur dan penguat hati.

Nabi Yusuf عليه السلام mengalami ujian yang bertubi-tubi. Ia didengki oleh saudara-saudaranya, dibuang ke dalam sumur, dijual sebagai budak, menghadapi fitnah, lalu dipenjara.

Namun semua itu bukan akhir dari kisahnya.

«“Dalam kisah-kisah Al-Qur’an ada penghiburan. Nabi ﷺ pun menghibur dirinya dengan kisah-kisah tersebut.”»

Syaikh Abdul Hakim Dahhas حفظه الله menjelaskan bahwa ketika seorang mukmin mendengar bagaimana para nabi dahulu disakiti, didustakan, diusir dari negeri mereka, bahkan hanya sedikit yang mengikuti mereka, hal itu dapat mengurangi kesedihan yang ada dalam dirinya.

Dengan demikian, ketika kehidupan terasa berat, salah satu tempat kembali seorang mukmin adalah Al-Qur’an dan kisah-kisah yang Allah abadikan di dalamnya.

Dari Ujian Menuju Karunia

Perjalanan Yusuf عليه السلام merupakan gambaran yang sangat jelas tentang perubahan keadaan hidup.

Ia berpindah dari satu ujian kepada ujian yang lain: kedengkian saudara, sumur, perbudakan, fitnah, penjara, hingga akhirnya Allah memberinya kedudukan dan kekuasaan.

«“Dari ujian menuju ujian, kemudian dari ujian menuju karunia. Dari kehinaan dan perbudakan menuju kemuliaan dan kerajaan, dari perpisahan dan tercerai-berai menuju pertemuan dan tercapainya tujuan, dari kesedihan dan duka menuju kegembiraan dan kebahagiaan.”»

Gambaran tersebut menjadi pelajaran penting bagi setiap orang yang sedang berada dalam kesulitan.

Keadaan hari ini bukanlah jaminan tentang keadaan esok.

Kesempitan dapat berubah menjadi kelapangan. Kesedihan dapat berubah menjadi kebahagiaan. Bahkan sesuatu yang pada awalnya tampak sebagai musibah dapat menjadi jalan menuju kebaikan yang besar.

Ketika Ujian Datang, Jangan Tinggalkan Allah

Kehidupan seorang mukmin tidak akan selalu berada dalam keadaan yang sama. Ada masa lapang dan ada masa sempit. Ada nikmat dan ada musibah.

Karena itu, seorang mukmin harus memiliki bekal untuk menghadapi keduanya.

Dalam keadaan lapang, ia bersyukur. Dalam keadaan sulit, ia bersabar. Keadaan boleh berubah, tetapi penghambaan kepada Allah tidak boleh berubah.

«إِنَّهُ مَن يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ»

“Sesungguhnya barang siapa bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 90)

Ayat ini menunjukkan bahwa kesabaran Yusuf tidak berdiri sendiri. Ia berjalan bersama takwa dan ihsan.

“Bagi Orang-Orang yang Bertanya”

«لَقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِّلسَّائِلِينَ»

“Sungguh, pada Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang bertanya.” (QS. Yusuf: 7)

Ayat ini menjadi salah satu kunci untuk mendapatkan manfaat dari Surat Yusuf.

Syaikh Abdul Hakim Dahhas حفظه الله menegaskan bahwa seseorang tidak akan mendapatkan manfaat dari Surat Yusuf kecuali apabila ia benar-benar datang sebagai orang yang ingin mencari faidah.

Bertanya tidak selalu berarti mengangkat pertanyaan dengan lisan. Seseorang juga dapat “bertanya” dengan kesungguhannya: membaca, menelaah, mencatat, mengulang, dan berusaha memahami.

Sebab, semakin besar perhatian seseorang terhadap Al-Qur’an, semakin banyak pula pelajaran yang dapat ia temukan.

Ilmu Mengangkat Derajat

Di antara perkara yang mendapatkan perhatian dalam pertemuan ini adalah kedudukan ilmu.

Yusuf عليه السلام diberikan ilmu yang menjadi salah satu sebab Allah mengangkat kedudukannya. Kemampuannya dalam memahami dan menakwilkan mimpi menjadi salah satu bentuk ilmu yang Allah karuniakan kepadanya.

«“Ilmu sebelum perkataan dan perbuatan. Dengan ilmu Allah mengangkat derajat kalian. Allah memuliakan Yusuf karena ia memiliki ilmu.”»

Karena itu, penuntut ilmu hendaknya tidak meremehkan faidah sekecil apa pun. Satu kalimat yang dicatat hari ini bisa menjadi ilmu yang terus diingat dan diamalkan di kemudian hari.

Dalam kajian juga ditekankan pentingnya membiasakan diri mencatat faidah, meskipun hanya satu kata atau setengah kalimat.

Tidak Semua Mimpi adalah Ru’ya

Pembahasan menarik lainnya dalam pertemuan pertama adalah tentang mimpi.

Surat Yusuf mengandung beberapa peristiwa yang berkaitan dengan mimpi: mimpi Yusuf عليه السلام, mimpi dua pemuda yang berada bersamanya di penjara, dan mimpi Raja Mesir.

Dari kisah tersebut dijelaskan bahwa mimpi memiliki beberapa keadaan. Ada adhghātsul ahlām atau mimpi yang kacau dan tidak memiliki tafsir, ada mimpi yang merupakan gangguan setan, dan ada pula ru’ya yang benar.

Karena itu, seorang muslim tidak semestinya menjadikan setiap mimpi sebagai dasar untuk mengambil keputusan atau membangun keyakinan tertentu.

Pembahasan ini sekaligus menunjukkan pentingnya ilmu dan kehati-hatian dalam menyikapi sesuatu yang tidak selalu dapat dipahami secara langsung.

Dari Kisah Menjadi Bekal Kehidupan

Pertemuan pertama Fawaid Mustanbathah min Qishshati Yusuf membuka pintu untuk melihat Surat Yusuf dengan perspektif yang lebih dalam.

Kisah ini mengajarkan bahwa:

  • kesedihan tidak selamanya berlangsung;
  • ujian tidak selalu berakhir dengan keburukan;
  • kesabaran harus berjalan bersama ketakwaan;
  • ilmu menjadi sebab kemuliaan;
  • dan kisah Al-Qur’an harus dibaca untuk mendapatkan ‘ibrah, bukan sekadar untuk mengetahui jalan ceritanya.

Pada akhirnya, kisah Yusuf mengajarkan kita untuk tidak menilai perjalanan hanya berdasarkan keadaan yang sedang kita alami.

Yusuf berada di dalam sumur, tetapi kisahnya belum berakhir.

Ia berada dalam perbudakan, tetapi kisahnya belum berakhir.

Ia berada di dalam penjara, tetapi kisahnya juga belum berakhir.

Hingga akhirnya Allah menunjukkan bagaimana kesabaran dan ketakwaan membawa seorang hamba menuju pertolongan-Nya.

Maka bagi seorang mukmin yang sedang menghadapi ujian, kisah Yusuf bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dijadikan penguat hati dan bekal dalam menapaki kehidupan.

Demikian di antara faidah yang dapat kita petik dari kisah Nabi Yusuf عليه السلام. Namun, perjalanan mengambil pelajaran dari kisah yang penuh hikmah ini masih panjang.

Nantikan dan simak terus silsilah faidah berikutnya, semoga Allah memberi kita taufik untuk tidak sekadar membaca kisah-kisah Al-Qur’an, tetapi mampu mengambil ‘ibrah, mengamalkannya, dan menjadikannya bekal dalam menjalani kehidupan.

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button