Beberapa Hukum Seputar Safar, Ternyata Mudah Dilakukan

JEMBER – Sebelum melakukan safar dan rihlah thalabul ilmi untuk mengikuti Daurah Salafiyyah Imam al-Muzani, yuk kita sedikit mengenal beberapa hukum seputar safar. Harapannya dengan itu, safar dan rihlah kita Allah berkahi karena benar-benar dilakukan di atas bashirah dan ilmu.
Berikut ini beberapa hukum seputar safar.
Batasan Safar
Ada beberapa pendapat yang menjelaskan batasan perjalanan sehingga disebut safar. Dari sekian pendapat tersebut, insya Allah pendapat yang rajih adalah bahwa safar itu tanpa adanya batasan jarak tertentu.
Penentuan batas safar adalah dengan ‘urf atau kebiasaan masyarakat setempat. Jika menurut kebiasaan setempat, sebuah perjalanan disebut safar, maka ia terhitung sebagai musafir, sehingga dengan itu berlaku baginya seluruh hukum ibadah dan muamalah yang terkait dengan safar. Jika tidak demikian, hukum safar tidak berlaku. Sebagaimana penjelasan Ibnu Taimiyyah dalam [Majmu’ al-Fatawa, (24/106)]
Adab Safar
1. Berpamitan Terlebih Dulu.
Musafir hendaknya berpamitan kepada keluarga, kerabat dan saudara-saudara yang ditinggalkan dengan mengucapkan doa,
أَسْتَوْدِعُكُمُ اللهَ الَّذِيْ لاَ تَضِيْعُ وَدَائِعُهُ
“Aku menitipkan kalian kepada Allah yang tidak akan pernah hilang segala titipan (yang dititipkan) kepada-Nya.” (HR. Ahmad)
Sedangkan bagi yang ditinggal mendoakan yang safar dengan doa:
أَسْتَوْدِعُ اللَهَ دِيْنَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ أَعْمَالِكَ
“Aku titipkan pemeliharaan agama kalian kepada Allah, amanat yang kalian emban, dan akhir penutup amal kalian.” (HR. at-Tirmidzi)
Baca Juga: Ikhlaskan Kalbu dalam Menuntut Ilmu, Luruskan Hati Saat Thalabul Ilmi
2. Memilih Ketua Rombongan atau Amir Safar.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِي أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ.”
Dari sahabat Abu Said al-Khudri, Rasulullah bersabda, “Jika tiga orang keluar untuk safar maka hendaklah mereka mengangkat salah satu rombongan sebagai pemimpin.” (HR. Abu Dawud no. 2608)
Yang dipilih menjadi Amir Safar adalah yang paling berilmu dan berpengalaman. Tugasnya membimbing dan mengarahkan anggota tentang kemaslahatan safar. Wajib bagi anggota rombongan untuk taat dan mengikuti segala yang diperintahkan dalam hal yang makruf bukan yang munkar.
3. Banyak Berdoa Ketika Safar
Sebab, safar merupakan waktu mustajab. Rasulullah bersabda dalam hadits Abu Hurairah,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ –صلى الله عليه وسلم– « ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ ». رواه الترمذي
“Ada tiga doa mustajab yang tidak diragukan lagi padanya; doa orang yang terzalimi, doa Musafir, dan doa kejelekan dari orang tua untuk anaknya.” (HR. at-Tirmidzi)
Shalat Dua Rakaat Ketika Kembali ke Negerinya
عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِىَّ –صلى الله عليه وسلم– كَانَ لاَ يَقْدِمُ مِنْ سَفَرٍ إِلاَّ نَهَارًا_ فِى الضُّحَى _ فَإِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ أَتَى الْمَسْجِدَ فَرَكَعَ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ جَلَسَ فِيهِ.
Ka’ab bin Malik berkata, “Apabila Nabi tiba dari suatu perjalanan pada waktu dhuha, beliau mendatangi masjid lalu mengerjakan shalat dua rakaat sebelum beliau duduk.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)
Doa-Doa Safar
Doa Meninggalkan Rumah
بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لآ حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلاَ بِاللهِ
“Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan apapun kecuali dengan pertolongan Allah.”
Doa Menaiki Kendaraan Darat
بِاسْمِ اللَّهِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ
{ سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ }
الْحَمْدُ لِلَّهِ 3x
اللَّهُ أَكْبَرُ 3x
سُبْحَانَكَ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
“Dengan nama Allah”
“Segala puji bagi Allah”
“Maha Suci Rabb yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami (di hari kiamat)”.
“ Segala puji bagi Allah (3x)”
“Allah Maha Besar (3x)”
”Maha Suci Engkau Ya Allah, sesungguhnya aku menganiaya diriku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.” [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi].
Doa Menaiki Kendaraan Udara
بِسْمِ اللهِ، بِسْمِ اللهِ، بِسْمِ اللهِ
“Dengan menyebut nama Allah.” (3 kali)
اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
سُبحَانَ الَّذِي سَخَّرَلَنَا هَذَا وَمَاكُنَّالَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَالَمُنْقَلِبُونَ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِيْ سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنْ الْعَمَلِ مَاتَرَضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِيْ السَّفَرِ، وَالْخَليـفَةُ فِيْ الْأَهْلِ
اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَابَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِيْ الْمَالِ وَالْأَهْلِ
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Maha suci Allah Yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, sedang sebelumnya kami tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami (di hari Kiamat)’ (QS. az-Zukhruf: 13-14)
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam bepergian ini. Kami mohon perbuatan yang engkau ridhoi.
Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini. Dekatkan jaraknya bagi kami.
Ya Allah, Engkaulah teman dalam bepergian dan yang mengurusi keluarga(ku).
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan dalam perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, keburukan harta dan keluarga ketika kami kembali.”
Doa Menaiki Kendaraan Laut
بِسْمِ اللهِ مَجْرَهَا وَ مُرْسَهَآ اِنَّ رَبِّىْ لَغَفُوْر ٌرَّحِيْمٌ
“Dengan nama Allah yang menjalankan kendaraan ini berlayar dan berlabuh. Sesungguhnya Rabbku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (HR. Imam an-Nawawi).
Doa Ketika Singgah Atau Tiba di Suatu Tempat
Dari Khaulah binti Hakim, Nabi bersabda, “Barangsiapa yang singgah di suatu tempat kemudian dia berdoa,
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang maha sempurna dari kejelekan makhluk yang Engkau ciptakan.” (HR. Muslim)
Doa Ketika Pulang dari Safar
Sama dengan doa bepergian kemudian ditambah,
آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ
“Kami kembali dengan bertaubat, tetap beribadah dan selalu memuji kepada Rabb kami.” (HR. Muslim 2/998)
Baca Juga: Apakah Cukup Menuntut Ilmu Melalui Rekaman Saja
Website Resmi: https://daurahimamalmuzani.com/
Channel Telegram Resmi: https://t.me/daurahimamalmuzani



